Teknologi Airbag

Perusahaan otomotif pun menyadari masih banyak terdapat kompleksitas terhadap ide ini. Ada dua kendala yang harus diatasi agar airbag bisa bekerja secara sempurna. Pertama tingkat akurasi dalam mendeteksi tabrakan sehingga mampu menggembungkan airbag dalam waktu 30 milidetik. Kedua untuk mengatasi permasalahan yang pertama dibutuhkan tingkat teknologi yang tinggi dan pada saat itu belum ada, sehingga para pengembang mengalami kehilangan daya tarik untuk melakukan riset.

Pada tahun 1966 para pengembang di bidang otomotif (Ford & Eaton) memiliki daya tarik kembali terhadap airbag. Diawali dari pengujian katup detonator yang diciptakan oleh Angkatan Darat Amerika Serikat. Dan teknologi ini dapat diterapkan untuk desain airbag. Di mana sensor dipicu, sehingga detonator akan melepaskan gas ke dalam tas. Detonator ini mengalami ledakan dengan kekuatan sama seperti senapan kaliber 22.

Dari keberhasilan ini Ford memutuskan akan menggunakan airbag pada tahun 1971 di mobil Ford Mercurys. Namun rencana ini digagalkan oleh chief engineer body mobil, Stuart Frey. Dia mengklaim bahwa ada dua masalah besar dalam penggunaan airbag. Saat produksi missal masih banyak mengalami kendala teknis. Dan yang kedua boneka childsize (boneka pengendara uji tabrakan) masih menerima benturan yang keras dari airbag selama uji coba kecelakaan, selain itu airbag tidak efektif selama tabrakan sudut serta saat kaca depan mengalami pecah.

Gambar 4 - Ford Mercury 1971

Gambar 4 – Ford Mercury 1971

Pada saat yang sama, General Motors juga melakukan riset pada desain airbag. Di mana sebelumnya mengalami banyak masalah mulai boneka uji yang harus menirukan bentuk manusia asli serta desain ulang interior mobil agar dapat mengakomodasi airbag. Namun, GM dapat mengatasi hal itu dibandingkan Ford. Karena GM melibatkan pengalaman dari banyak anak perusahaan. Mulai divisi AC Electronics yang telah mengembangkan accelerometers di pesawat Boeing 747. Dari keahlian ini sangat bermanfaat dalam pengembangan sensor kecelakaan. Divisi auto dinamika melakukan pengembangan di bidang hypervelocity re-entry physics sehingga memberikan pengetahuan tentang pengisian gas ke dalam airbag. Selain itu pengalaman GM yang diperoleh dalam sistem-analisis sehingga mampu membuat permodelan saat memprediksi gerakan penumpang selama tabrakan.

Gambar 5 - Boneka Uji Tabrakan

Gambar 5 – Boneka Uji Tabrakan

GM menginstal sistem ini pada tahun 1973 pada mobil Chevrolet Impala. Langkah ini mampu menjadikan GM sebagai pemimpin dalam bidang teknologi airbag selama periode 1974-1976. Namun selama periode itu teknologi airbag tidak begitu menjual. Sebab GM hanya mampu menjual 10.321 mobil yang dilengkapi airbag. Akibatnya, program airbag GM berakhir.

Gambar 6 - Chevrolet Impala 1973

Gambar 6 – Chevrolet Impala 1973

Teknologi airbag ada lagi kembali saat Mercedes-Benz menawarkan model di tahun 1984. Dalam waktu dua tahun, airbag telah menjadi perlengkapan stAndar pada semua mobil Mercedes-Benz. Karena keberhasilan itu, akhirnya Ford melakukan inovasi untuk menambahkan airbag samping sopir.

Titik terang terjadi saat pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan pada tahun 1990, bahwa semua mobil yang dijual di AS harus dilengkapi dengan airbag. Pada tahun 1991, Kongres pengesahan Undang-Undang Efisiensi Permukaan Transportasi Intermodal dilakukan dan mengeluarkan point bahwa memerintahkan kepada National Highway Traffic Safety Administration untuk memberikan airbag di semua kendaraan baru pada tahun 1998 baik pengemudi atau pun penumpang.

Airbag telah mengalami perjalanan panjang dan sulit. Setelah kegagalan yang berulang-ulang kini menjadi fitur keselamatan paling penting dalam mobil. Dan telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia dalam berbagai macam kasus kecelakaan mobil.

Jika artikel ini bermanfaat buat Anda, mohon untuk di Share because “Sharing is Caring”

Referensi:

  1. web.bryant.edu
  2. www.arrojoaudi.com
  3. commons.wikimedia.org
  4. http://81.83.5.134/
  5. shuoke.autohome.com.cn

COMMENTS

Loading Facebook Comments ...