Prinsip Kerja Google Glass

Jika anda penggemar film Iron Man, Anda pasti paham dengan teknologi display pada helm Iron Man yang dirancang oleh Tony Stark. Ya, di helm tersebut, Tony dapat melihat secara terperinci tentang semua informasi tentang baju perangnya, seperti: power, target, pergerakan Iron Man, sampai informasi tentang radar. Selain itu, teknologi yang disebut Jarvis, dapat melaksanakan perintah sang Iron Man hanya melalui perintah suara. Anda ingin memilikinya? Sabar, ternyata Google telah merilis produk serupa, bahkan sudah dijual untuk umum. Google melalui divisi perusahaannya yang berfokus pada eksperimen dan pengembangan teknologi seperti mobil tanpa pengemudi (driverless car), yakni Google X, membuat suatu alat komunikasi berbentuk kacamata yang diberi nama Google Glass. Google Glass dapat menampilkan informasi tepat di hadapan penggunanya. Informasi yang diberikan meliputi email, reminder, hingga notifikasi media sosial, dan lainnya.

Gambar 1: Seorang Pengguna Menggunakan Google Glass (www.heavy.com)

Gambar 1: Seorang Pengguna Menggunakan Google Glass (www.heavy.com)

Google Glass harus dihubungkan terlebih dahulu pada sebuah smartphone sehingga mampu menampilkan informasi yang menunjang aktivitas penggunanya, seperti: email, panggilan telepon, maupun notifikasi lain pada smartphone tersebut. Google Glass diperkenalkan pertama kali kepada publik pada 2013 dengan label Google Glass Explorer Edition. Gadget ini dibanderol USD 1500 atau sekitar Rp 21 juta. Mahalnya gadget ini disebabkan material prisma yang dapat dikatakan extreme material. Selain itu, perlengkapan seperti baterai, proyektor, serta mainboard yang berukuran serba mini juga menjadi pendongkrak harga Google Glass tersebut.

Google Glass mempunyai bobot yang sangat ringan, yaitu sebesar 42 gram, dan mempunyai desain yang sangat nyaman digunakan. Sehingga membuat penggunanya betah berlama-lama memakai Google Glass.

Fitur Google Glass

Dengan harga yang fantastis, yakni USD 1500, Google Glass menawarkan fitur-fitur yang mampu memudahkan pengguna dalam mengakses fitur telekomunikasi, seperti: email, media sosial, maupun notifikasi-notifikasi lainnya. Berikut fitur-fitur yang dimiliki Google Glass.

  1. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melihat informasi mana yang ingin ditampilkan oleh Google Glass. Touchpad ini terletak pada bagian samping. Geser ke belakang untuk melihat informasi sekarang seperti cuaca, dan geser ke belakang untuk melihat informasi seperti daftar panggilan, foto, update notifikasi media sosial, dan lain sebagainya.

    Gambar 2: Touchpad pada Google Glass (www.wikipedia.com)

    Gambar 2: Touchpad pada Google Glass (www.wikipedia.com)

  2. Google Glass juga dilengkapi kamera yang mampu merekam video dengan kualitas 720p HD. Kamera ini terletak pada bagian depan Google Glass.
  3. Seperti yang sudah disebutkan di atas, tampilan pada Google Glass memanfaatkan refraksi cahaya. Komponen display pada Google Glass sangat kompleks secara ilmu optika dan terdiri dari beberapa komponen, seperti: LcoS (Liquid Crystal on Silicon), field sequential color system, dan LED RGB. Penjelasan untuk setiap fungsi komponen display akan dijelaskan secara lebih rinci pada proses kerja Google Glass.
  4. Voice Command. Fitur perintah melalui suara ini merupakan alternatif input untuk Google Glass. Pengguna dapat mengaktifkannya dengan mendongakkan kepala sebesar 30o atau mengucapkan kalimat “Ok, Glass” yang kemudian diikuti dengan perintah suara yang dapat dikenali oleh Google Glass mulai dari perintah sederhana seperti “Take a picture”, “Give me direction to Eiffel Tower”, sampai perintah untuk mengirimkan email dengan menuliskan isi email tersebut melalui suara.

Prinsip Kerja Google Glass

Google Glass bekerja dengan prinsip pembiasan cahaya oleh prisma. LED meng-emisikan cahaya yang dipolarisasi dan dihomogenisasi untuk kemudian dibiaskan menjadi tampilan di depan mata pengguna. Secara terperinci, proses kerja dari Google Glass akan dijabarkan melalui gambar berikut.

Gambar 3: Proses Kerja Google Glass (www.quora.com)

Gambar 3: Proses Kerja Google Glass (www.quora.com)

Sebenarnya, sistem kerja Google Glass tidak bisa diidentikkan sebagai proyektor mikro. Sistem display pada Google Glass menggunakan sistem Field Sequential Color. Secara dasar, gambar yang ditampilkan Google Glass adalah gambar monokromatik terpolarisasi dengan tiga dasar warna, yaitu: merah, hijau, dan biru. Tidak seperti proyektor, Google Glass tidak membutuhkan emisi chaya yang terang karena gambar yang ingin dihasilkan bersifat transparan. Oleh karena itu, Google menggunakan Low-Power LED yang hemat konsumsi baterai. Penggunaan LED ini secara tidak langsung mengurangi ukuran dari Google Glass secara keseluruhan.

Gambar 4: Pembentukan Gambar Berbasis RGB pada Google Glass (www.quora.com)

Gambar 4: Pembentukan Gambar Berbasis RGB pada Google Glass (www.quora.com)

Emisi cahaya dari LED, akan diterima oleh Wedge Shaped Fly-Eye “Homogenizer” Lens. Komponen ini berbentuk persegi, namun jika diperbesar, konturnya hampir mirip dengan lensa Solar Concentrator untuk sel surya. Lensa fly-eye ini berfungsi sebagai distributor cahaya sehingga persebaran cahaya menjadi seragam. Komponen ini dilindungi oleh lembaran metal yang dilapisi aluminium yang berguna sebagai reflektor untuk lensa fly-eye, sehingga cahaya yang diemisikan LED mampu diterima seluruhnya oleh lensa fly-eye.

Cahaya yang diproses di lensa fly-eye akan diteruskan ke PCS (Polarization Compensation System) untuk dipolarisasi. PCS merupakan sistem untuk membuat gambar yang terpolarisasi dari setiap warna LED, sehingga terbentuk satu gambar yang berbasis satu warna di antara tiga warna RGB. PCS terdiri dari dua komponen, yaitu: polymer reflective polarizing diffuser (Biasa disebut Polymer Diffuser) dan reflective crossed wire grid based polarizing grating (Biasa disebut Crossed Polarization Grating).

Gambar 5: Penampakan Tiga Komponen Display Beserta Foto Perbesarannya (www.quora.com)

Gambar 5: Penampakan Tiga Komponen Display Beserta Foto Perbesarannya (www.quora.com)

Gambar yang sudah dihomogenisasi dan dipolarisasi akan diteruskan pada komponen yang dinamakan LcoS (Liquid Crystal on Silicon). Komponen ini berfungsi untuk membuat gambar negatif dari cahaya yang diemisikan oleh komponen sebelumnya.

Gambar 6: Penampakan Gambar Negatif yang Dihasilkan Oleh LcoS (www.quora.com)

Gambar 6: Penampakan Gambar Negatif yang Dihasilkan Oleh LcoS (www.quora.com)

LcoS merupakan suatu jenis material yang unik. Material ini terdiri dari kristal yang dibuat di atas hamparan silikon. Penampakan struktur LCoS ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Gambar 7: Struktur LCoS (www.quora.com)

Gambar 7: Struktur LCoS (www.quora.com)

Sistem PCS (Polarization Compensation System) pada Google Glass sangat unik. Penjelasannya sebagai berikut. Objek yang kita lihat pada dunia nyata, sebenarnya merupakan pantulan dari cahaya yang merupakan campuran seimbang antara cahaya S dan P (Istilah dalam polarisasi cahaya). Untuk mendapatkan sinar S saja atau P saja, kita harus melakukan proses polarisasi. Proses polarisasi dapat dilakukan dengan memberikan filter. Layar LED yang biasa kita temui, menggunakan konsep ini. Layar LED dilapisi filter cahaya untuk menghasilkan gambar yang bisa kita lihat. Tanpa lapisan filter, layar LED hanya akan menghasilkan cahaya putih terang. Hal inilah mengapa kadangkala kita melihat layar LED kita menjadi gelap saat dilihat pada sudut tertentu. Sama seperti layar LED, LCoS pada Google Glass juga mengemisikan cahaya yang terpolarisasi.

Namun, penggunaan filter untuk proses polarisasi dapat mengurangi setengah dari total intensitas cahaya yang dihasilkan. Pada Google Glass yang menggunakan LED yang rendah konsumsi, penggunaan filter jelas bukan suatu pilihan. Oleh karena itu, Google menggunakan sistem PCS ini.

Sistem PCS ini dikembangkan pada pertengahan tahun 2000 oleh Misumi Chemicals dari Jepang. Jadi sebenarnya sistem ini bukan buatan Google. Sistem PCS mampu membuat cahaya LED yang “terbuang”, digunakan kembali untuk selanjutnya mengalami proses polarisasi.

Pada Google Glass, lensa fly-eye meng-konsentrasikan cahaya yang tidak terpolarisasi yang diemisikan oleh LED, menuju polarizing diffuser. Polarizing diffuser ini bertugas untuk mempolarisasi input cahaya S menjadi cahaya P. Sebenarnya, setelah polarizing diffuser, selain cahaya P, juga ada sisa cahaya S yang lewat. Inilah tugas dari Reflective Polarizing Grating (RPG). RPG berfungsi sebagai penyaring dan pemantul. Cahaya P akan diteruskan ke LCoS, sedangkan cahaya S yang lolos tersebut akan dipantulkan kembali ke polarizing diffuser untuk dipolarisasi kembali menjadi cahaya P. Proses ini dilakukan berulang-ulang, sehingga cahaya yang diemisikan LED, dapat dipolarisasi secara maksimal menjadi cahaya P saja. Cahaya P inilah yang selanjutnya diterima LCoS untuk menghasilkan gambar negatif.

Gambar negatif yang dihasilkan oleh LCoS akan diteruskan ke lensa cembung dan dipantulkan sehingga bisa menghasilkan gambar yang nyata, atau seolah-olah ada di depan mata pegguna. Gambar yang dihasilkan Google Glass sebenarnya mirip dengan proses penampilan video, yaitu dengan transisi gambar dengan cepat. Bedanya, jika pada video, gambar yang digunakan adalah gambar full colour yang ditransisikan sangat cepat sehingga menghasilkan gambar berjalan, Google Glass melakukan transisi pada gambar monokromatik RGB untuk menghasilkan gambar yang full colour.

Gambar 8: Situasi Pandangan Pengguna Google Glass (www.techradar.com)

Gambar 8: Situasi Pandangan Pengguna Google Glass (www.techradar.com)

Gambar yang seakan-akan dekat dengan mata memberikan sensasi tersendiri. Menurut beberapa pengguna, memakai Google Glass rasanya sama seperti menonton HDTV 25 in.

Kelebihan dan Kekurangan

Sama seperti produk teknologi lainnya, Google Glass juga memiliki sisi positif maupun negatif. Hal ini menyebabkan perlunya kebijakan pengguna dalam menggunakan Google Glass. Kelebihan Google Glass adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai Asisten Pribadi. Alat ini mampu menjadi asisten pribadi bagi para eksekutif yang biasanya mempunyai jadwal yang begitu padat. Melalui aplikasi Google Now, Google Glass dapat mengingatkan tentang janji dengan seseorang, sampai mengatur jadwal meeting.
  2. Sebagai Pusat Informasi Secara Cepat. Ketika membutuhkan informasi tentang sesuatu, pengguna dapat memerintahkan Google Glass untuk mencari informasi memakai Google Search Engine. Dan kerennya, fitur ini mampu diaktifkan memalui perintah suara (Voice commands).
  3. Sebagai Alternatif Fashion yang High-Tech. Banyak pameran fashion yang menyertakan Google Glass sebagai aksesori tambahan yang keren. Hal ini membuktikan bahwa memakai Google Glass dapat menambah nilai gengsi sosial penggunanya.

Selain sisi positif, tentu saja Google Glass juga mempunyai sisi negatif, diantaranya:

  1. Memberi Beban Lebih Terhadap Mata. Pemindahan fokus mata yang terlalu sering dari pandangan nyata ke Google Glass, dapat menurunkan kemampuan otot mata dalam menentukan fokus.
  2. Kemungkinan Terlanggarnya Privasi. Hal ini sangat beralasan, karena Google Glass memungkinkan penggunanya untuk mencari informasi mengenai seseorang yang sedang dihadapi hanya menggunakan suara. Selain itu, pengguna dapat memotret seseorang tanpa diketahui, mengunggah ke media sosial tanpa persetujuan orang yang difoto, bahkan dapat mencari orang tersebut melalui Google Web Image Search.

Jika artikel ini bermanfaat buat Anda, mohon untuk di Share because “Sharing is Caring”

Referensi:

  1. www.quora.com
  2. www.techradar.com
  3. www.tomsguide.com
  4. www.brillen-sehhilfen.de
  5. www.heavy.com
  6. www.wikipedia.com

 

COMMENTS

Loading Facebook Comments ...