Apa itu Shale Oil?

Gambar 1 - Oil Shale (www.southampton.ac.uk)

Gambar 1 – Oil Shale (www.southampton.ac.uk)

Shale oil bisa menjadi salah satu sumber energy yang paling penting pada tahun-tahun mendatang karena jumlah cadangannya masih sangat melimpah di bumi ini, misalnya : di Amerika diperkirakan mampu memproduksi shale oil sebesar “ 1.5 to 1.8 trillion barrels (source: RAND )”. Jumlah ini tiga kali lebih besar daripada cadangan minyak Saudi Arabia dan jumlah ini dapat mencukupi kebutuhan minyak Amerika selama 400 tahun (Source:Argonne National Laboratory).

Pada saat ini (2015), Amerika Serikat sudah menemukan teknologi untuk memproduksi shale oil mereka sehingga mereka tidak tergantung lagi dengan Saudi Arabia untuk mencukupi kebutuhan energy mereka. Selain itu dari sisi politik, Amerika dan Saudi Arabia memproduksi oil energy mereka secara bersamaan sehingga menyebabkan “overproduksi” dari kebutuhan Oil energy di seluruh dunia dan menyebabkan harga minyak turun. Sebelum berbicara lebih lanjut tentang Shale Oil, pertama–tama kita harus tahu terlebih dahulu definisi dari Shale Oil tersebut.

Apa itu Shale Oil?

Shale Oil adalah hydrocarbon yang berasal dari Oil Shale dimana Oil Shale ini adalah jenis batuan sedimen (biasanya mudstone atau siltstone) yang kaya kerogen. Oil shale seringkali disebut dengan batu yang bisa terbakar seperti halnya batu bara. Hydrocarbon yang terkandung di dalam oil shale ini berbentuk padat sehingga tidak bisa langsung diekstrak seperti halnya crude oil konvensional. Oil shale butuh ditambang, dipanaskan, dan hydrocarbon yang didapat harus diolah lagi agar menghasilkan shale oil. That’s why, Shale Oil ini mempunyai harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan minyak konvensional.

Seperti halnya crude oil konvensional, natural gas, dan batu bara, Shale oil adalah bahan bakar fossil yang terbentuk dari sisa-sisa algae, spores, plants, pollen dan berbagai organisme lain yang hidup pada jutaan tahun lalu. Selain itu, shale oil ini juga dapat di-refinery pada substansi-substansi tertentu seperti diesel fuel, gasoline, dan Liquified petroleum gas (LPG).

Klasifikasi Oil shale

Oil shale sering diklasifikasikan berdasarkan sejarah pengendapan dan mineral content mereka.

  1. Klasifikasi Oil Shale berdasarkan sejarah pengendapan

Gambar 2 - Klasifikasi Oil Shale (crudeoilpeak.info)

Gambar 2 – Klasifikasi Oil Shale (crudeoilpeak.info)

Sejarah pengendapan Oil Shale meliputi organisme dan sedimen yang diendapkan, serta bagaimana mereka berinteraksi dengan  tekanan dan panas di dalam perut bumi. Diagram Van Krevelen adalah metode klasifikasi Oil Shale berdasarkan sejarah pengendapannya dimana mereka dibedakan berdasarkan tempat mereka disimpan, yaitu : danau (lakustrin), laut (marine) dan darat (terestrial).

Oil Shale dari lingkungan lakustrin sebagian besar terbentuk dari alga yang hidup di air tawar, air asin, atau air payau. Jenis oil shale yang ditemukan di daerah ini adalah Lamosite dan torbanite yang biasa ditemukan di Skotlandia, Australia, Kanada dan Afrika Selatan.

Oil shale dari lingkungan laut sebagian besar terbentuk dari endapan ganggang dan plankton. Jenis Oil Shale yang ditemukan di daerah ini adalah Kukersite, Tasmanite dan Marinite. Kukersite ditemukan di Estonia dan Rusia. Tasmanite diberi nama berdasarkan tempat dimana ia ditemukan, yaitt Tasmania, Australia. Marinite adalah jenis oil shale yang paling berlimpah dimana ia banyak ditemukan di laut dangkal dan cadangan marinate terbesar di dunia adalah di Amerika Serikat yang membentang dari Negara bagian Indiana dan Ohio melalui Kentucky dan Tennessee. Meskipun jumlahnya berlimpah, Marinite ini tidaklah ekonomis.

Oil shale dari lingkungan darat terbentuk dari rawa dangkal dan rawa-rawa dengan jumlah oksigen yang rendah. Jenis Oil Shale yang ditemukan di daerah ini adalah Cannel shale yang juga biasa disebut dengan batu bara kusam atau “batubara lilin”. Cannel Shale dulu sering digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu jalan dan penerangan lainnya di abad ke-19.

  1. Klasifikasi Oil Shale bedasarkan mineral content

Oil shale diklasifikasikan dalam tiga jenis berdasarkan kandungan mineral mereka, yaitu : carbonate-rich shale, siliceous shale, dan cannal shale.

Carbonate-rich shale memiliki kandungan mineral karbonat dalam jumlah yang tinggi. Mineral karbonat terbentuk dari ion karbonat (senyawa unik karbon dan oksigen). Jenis umum dari carbonate-rich shale ini adalah Kalsit. Kalsit adalah komponen utama dari banyak organism laut dimana kalsit ini membantu membentuk cangkang dan eksterior keras tiram, bintang laut. Selain itu, Plankton, ganggang merah, dan spons juga merupakan sumber penting dari kalsit.

Siliceous Shale tersusun dari mineral silica atau silicon dioxide yang terbentuk dari organism seperti alga, spons, dan mikroba yang disebut radiolarian. Alga memiliki dinding sel yang terbuat dari silika dan juga spons memiliki kerangka atau spikula yang terbuar dari silika. Siliceous shale ini juga lebih mudah ditambang jika dibandingkan carbonate-rich shale.

Jika artikel ini bermanfaat buat Anda, mohon untuk di Share because “Sharing is Caring”

Referensi:

  1. education.nationalgeographic.com
  2. science.howstuffworks.com

COMMENTS

Loading Facebook Comments ...